AKU

Terkadang  untuk mengungkapkan sebuah rasa amat sangat sulit melalui ucapan, tapi  dalam tulisan semua terasa ringan. Rasa bahagia akan lebih berkesan jika aku menulisnya,  tak jarang juga amarahku reda hanya dengan menuangkan dalam tulisan. Saat sedih juga sama, banyak goresan kata yang  lahir dari air mata dan sakit hati. Bagiku, menulis adalah waktu berhargaku untuk berdamai dengan diri sendiri.

Mungkin karena aku bukan terlahir dari keluarga romantis oleh sebab itu susah berucap tentang apa  yang hati rasakan. Entahlah, bagiku banyaknya aturan, larangan yang ayah berikan untukku juga kelembutan dan omelan khas ibuku itu adalah definisi romantisku. Bagaimanapun juga setiap keluarga punya cerita sendiri. Aku bahagia terlahir dengan apa adanya aku. Aku bahagia memiliki kehidupan yang aku jalani sekarang. Aku nyaman menjadi  aku, diriku.

Kehidupan mengajariku  banyak hal. Diantaranya adalah pengorbanan. Puluhan tahun merantau  bukan waktu yang singkat. Bukan pula hal yang sederhana. Aku melewatinya dengan susah payah, walau lelah tapi darinya aku mengerti arti pengorbanan yang sesungguhnya. Masih lekat diingatanku bagaimana kaki ini melangkah keluar dari rumah untuk pergi  jauh ke Kota orang. Tubuhku layu masih tak percaya diusiaku yang beranjak 13 tahun aku harus meninggalkan surgaku beserta jutaan kenangannya. Satu hal yang membuatku kuat adalah  bahwa saat itu, meyakini keputusan yang aku ambil dengan  dukungan  orangtua adalah yang terbaik.

Masuk pesantren adalah titik awal yang merubah drastis kehidupanku. Aku dipaksa keadaan untuk selalu mandiri dalam segala hal. Waktu yang terus berjalan membuatku sadar akan kesungguhan. Iya, setiap langkah yang diambil harus  aku bayar dengan kesungguhan. Bulan pertama memang sulit aku jalani tapi seiring waktu semua menjadi terbiasa dan mudah. Sesekali muncul keinginginan untuk nyerah dan pulang, yah…namanya juga bocah jauh dari orangtua kadang rapuh, dan syukurnya hanya keinginan yang tak sampai. Untuk menghibur diri, dulu suka ngebatin “ Nanti liburan juga pasti pulang”.

Saat itu, liburan adalah kata  terindah bagiku. Bagaimana tidak, membayangkan pulang kampung kumpul keluarga saja sudah sangat bahagia dan biasanya dari sebulan sebelum waktu kepulangan aku selalu ribut setiap jadwal nelfon bertanya “ Nanti ayah jadi jemput aku kan di Pondok?”. Iya, harus ayahku, sosok setia yang selalu menemaniku. Ayah yang mengantarku pergi, ayah juga yang menjemputku pulang tiap liburan. Banyak cerita berkesan yang tercipta bersama ayahku karena dari kecil ayah adalah penjagaku sekaligus teman dalam perjalananku. Satu kisah yang sampai sekarang kadang masih teringat tiap kali aku melihat terminal bus atau berada didalmnya. Tentang cerita perjalananku bersama ayahku dari Bima menuju Madiun untuk kembali ke pesantren. Saat itu bus menjadi pilihan kami, bersamanya melewati hutan dan gunung juga menyebrang lautan luas. Selain memang doyan jalan-jalan, barang bawaanku ringan karena jatah tentengan selalu ayah yang bawa jadinya jauh dari kata lelah. Bus yang kami tumpangi dari kampung cukup sampai Surabaya saja karena memang tidak ada jalur langsung Bima-Madiun. Waktu itu sampai terminal Bungurasih Surabaya malam hari, dan kami harus membeli tiket perjalanan baru untuk langsung ke Madiun. Rupanya bus yang biasa  kami tumpangi sudah keluar terminal dan terpaksa cari bus lain.

“Naik bus ini gak apa-apa ya, tapi gak ada AC nya” kata ayahku.

Buatku saat  itu tidak masalah daripada tidak dapat kendaraan dan harus bermalam di terminal. Tapi setelah diingat kembali untuk ukuran bus antar Kota memang banyak kekurangannya, mulai dari kursi yang tidak empuk, panas, juga tidak disediakan toilet.

 “ Ayah turun bentar, Iin tunggu disini”. Kebetulan bus lagi nunggu penumpang jadi biasanya parkir dalam waktu yang lama.  

Diluar dugaanku ternyata selang beberapa menit ayah turun, bus melaju dan seketika mulai panik noleh ke kaca jendela mencari ayah. Dari posisi duduk lalu aku berdiri dan kembali noleh kanan kiri mencari ayah lewat jendela. Laju bus semakin kencang, sebelum keluar gerbang terminal aku menepuk pelan lengan kondekturnya “ Pak ayah saya belum naik “ Iya, ini ucapanku, masih teringat sampai sekarang. Kalimat yang seketika memberhentikan bus yang hampir saja memisahkan seorang anak dan bapaknya haha. Nunggu ayah lumayan lama sampai kondekturnya bertanya “ Tadi ayahnya kemana?”, “ Saya gak tau pak” jawabku pasrah karena ayah tidak memberikan alasan mau kemana. Setelah menunggu  cukup lama dan membuat orang seisi bus bermuka masam akhirnya ayah kembali.

          “ In, ayok turun”. Ucapan ayah cukup membuatku  bingung. Kenapa  harus turun?. Walau keputusan ini membuat supir bus dan kondektur emosi kami tetap turun.

          “ Kita jadinya naik bus yang ini” kata ayah sambil menunjuk ke salah satu bus executive tujuan Madiun.

Ini salah satu cerita dari banyak cerita tentang pengorbanan ayah untukku.   Bagi orang banyak mungkin ini sederhana dan tidak berarti apa-apa tapi bagiku ini gambaran bahwa orangtua selalu ingin memberikan hal yang terbaik dan istimewa untuk anak-anaknya.

Jangan pernah bilang “ Orangtuaku tidak mengerti perasaanku, juga tidak mengerti aku”. Pada kenyataannya orang yang paling mengerti kita adalah orangtua. Orang yang tidak perah berkurang kadar cintanya diatas perlakuan baik dan buruk anaknya. Orang yang tidak pernah berubah sikapnya saat anaknya usia kecil bahkan anaknya dewasa.  Dimata orangtua kita akan selalu menjadi anak kecil  mereka yang masih butuh perhatian, bimbingan dan kasih sayang mereka.

Berbicara orangtua tidak cukup hanya dengan banyak ungkapan atau banyak kata dan kalimat untuk mereka sebab bagiku level tertinggi mengagumi dan mencintai adalah ketika bibir sudah tidak mampu berucap tentangnya dan hanya bisa merasakan dalam hati yang terdalam.

Untukmu yang berjuang akan cinta…

Jangan pernah lupa ada cinta yang selalu ada…

Untukmu yang lelah mencari cinta…

Jangan pernah lupa ada cinta yang selalu menyambut dan menyapa…

Cinta itu Ayah kita…

Cinta itu Ibu kita…

Hanya Ayah dan Ibu yang mengerti cinta…


  

Komentar

  1. Woooaaww, Aku jadi rindu Ayahku..kecehhhhhhhhh..sambungin lagi lahhhh

    BalasHapus
  2. Maa syaaa Allah kakak kawaay :D

    BalasHapus

Posting Komentar