UNTUKMU
Hidup memang tak semudah meneguk air dalam gelas. Hari-hari didalamnya pun tidak selalu indah, bahkan jauh dari kata sempurna. Layaknya langit yang tak selamanya biru. Layaknya laut yang tak selamnya tenang. Layaknya tumbuhan yang tak selamanya berbunga dan berbuah.
Terkadang
kita perlu belajar pada semesta. Mengambil hikmah disetiap kejadian. Merenung panjang
tentang makna kehidupan, juga arti dari tujuan diri diciptakan. Sesekali
menoleh kebelakang bukan untuk mengulang kisah namun mengambil pelajaran untuk
terus berjalan ke depan.
Menjadi
pribadi yang sungguh-sungguh bukan pilihan tapi keharusan. Bukan berarti tidak
pernah lelah dan ingin menyerah. Lagi dan lagi untuk mecapai sebuah tujuan
tidak semulus melaju di jalan tol. Jika lelah, istirahat sejenak untuk tetap
berpijak. Jika ingin menyerah, ingat tujuan awal dari perjalananmu. Tidak
peduli seberapa beratnya menghadapi badai kehidupan, kita harus menyelesaikan
apa yang pernah kita mulai.
Ada
sebuah ungkapan bahwa “Usaha tidak pernah menghianati hasil”. Pada kenyataannya hasil akhir tetap Allah
yang menentukan. Terkadang Allah memberi hasil yang indah pada tiap-tiap usaha
dan kesungguhan namun tak jarang Allah juga memberi kesedihan setelah ikhtiar
yang maksimal. Manusia hanya perlu percaya bahwa setiap kehendaknya adalah
kebaikan.
Kehidupan
berputar dan berubah-ubah. Sedih dan bahagia datang silih berganti. Musibah dan
ujian menghampiri, tugas kita menghadirkan kesabaran untuk melewatinya. Saat bahagia,
tidak lupa bersyukur atas segala nikmat yang Allah limpahkan. Konsepnya
terkesan sederhana saat dibaca namun menjalaninya tak semudah memahami. Kita
sering melupakan makna syukur, kita sering
meremehkan kekuatan Allah. Secuil apapun masalah, jangan mengandalkan kemampuan diri sendiri. Kembali
pada Allah. Semua untuk Allah.
Masa
lalu pilu terkadang menghantui. Pada intinya, masa lampau akan tetap menjadi
lampau. Hilang dan mati. Menyesal tidak akan merubah apa-apa. Tidak perlu susah
payah melupakan. Biarkan saja. Seiring waktu, semua akan menjadi hambar dan
biasa.
Jangan
gusar dan khawatir dengan masa depan. Bukankah semua sudah tertulis?. Bisa jadi
Allah menunda datangnya hari yang indah untuk menjadikannya lebih indah lagi.
Perjalanan
ini singkat. Kesempatan akan selalu ada. Jika tidak berlari kita akan
tertinggal.
Semua
ungkapan ini memang klasik. Apapun itu, semoga bisa menjadi penguat diri yang
kehilangan arah dan harap.
Semoga
Allah terus menghidupkan hati-hati yang rapuh dan layu dan menjadikan
didalamnya penuh dengan cinta kepadaNya dan keimanan kepadaNya dan selalu
terpaut padaNya.
Bima,
10-Romadhon-1442 H
Komentar
Posting Komentar